Dalam peta kuliner Palembang, kreativitas masyarakat dalam mengolah bahan makanan sering kali melampaui batas-batas bahan tradisional seperti ikan dan tapioka. Salah satu bukti nyata dari inovasi tersebut adalah lahirnya sebuah hidangan yang memberikan alternatif bagi mereka yang mungkin menginginkan tekstur yang berbeda namun tetap dalam kerangka rasa kuah kaldu yang sama. Hidangan ini menonjol sebagai sebuah varian unik karena tidak mengandalkan daging ikan sebagai bahan utamanya, melainkan menggunakan adonan yang difermentasi. Ini adalah sebuah anomali yang sangat menarik dalam ekosistem makanan berbasis air yang biasanya didominasi oleh aroma laut.
Daya tarik utama dari hidangan ini terletak pada penggunaan model yang terbuat dari bahan dasar gandum atau tepung terigu yang dicampur dengan ragi. Proses pembuatannya lebih mirip dengan pembuatan roti atau donat, di mana adonan harus didiamkan hingga mengembang sebelum akhirnya digoreng hingga garing dan berwarna cokelat keemasan. Hasilnya adalah sebuah bola-bola roti goreng yang memiliki pori-pori besar di dalamnya. Karakteristik pori-pori inilah yang menjadi rahasia kelezatannya; saat bola gandum tersebut dimasukkan ke dalam kuah kaldu udang, ia akan berfungsi seperti spons yang menyerap seluruh cairan gurih ke dalam inti adonannya.
Meskipun tidak menggunakan ikan dalam adonannya, banyak yang menganggap hidangan ini sebagai sebuah alternatif yang memiliki kasta tersendiri. Tekstur roti goreng yang kenyal sekaligus empuk memberikan sensasi mengunyah yang sangat berbeda. Ketika Anda menggigitnya, kaldu udang yang tersimpan di dalam pori-pori gandum akan menyembur keluar, memberikan kejutan rasa yang sangat nikmat. Penggunaan tepung terigu berkualitas tinggi memberikan aroma sereal yang harum, yang ketika bertemu dengan bawang putih dan merica dari kuah sup, menciptakan profil rasa yang sangat kaya dan terasa lebih berat atau mengenyangkan dibandingkan varian ikan biasa.
Publik sering kali menjuluki hidangan ini sebagai makanan mewah dalam kesederhanaan, karena meskipun bahannya terjangkau, proses pembuatannya memerlukan keahlian dalam mengatur fermentasi dan suhu penggorengan yang tepat agar roti tidak menjadi terlalu berminyak. Di meja makan, varian gandum ini biasanya disajikan dengan pelengkap yang sama seperti sup tekwan, yaitu jamur kuping, bengkuang, dan soun. Namun, karena sifat roti yang sangat menyerap air, biasanya kuah akan ditambahkan sesaat sebelum disantap agar tekstur roti tetap memiliki sedikit kekokohan dan tidak terlalu lembek.
